Rumus Fisika Raja, Kejutan Terindah
Kalau setiap cerita hidup selalu
indah,
hati ini tak pernah kenal dekat
dengan sabar dan ikhlas
Kalau setiap yang diinginkan
maunya dikabulkan,
Diiri ini tak pernah tau indahnya
mendekati Allah bersama jutaan doa dan harapan
Kalau setiap harapan selalu
berjalan sesuai rencana,
Hati ini tak pernah belajar bahwa
kecewa itu menguatkan
Ini tulisanku tentangnya. Tentang
kasih sayang yang luar biasa, pelindung serta penjaga keluarga dan keringatnya
menjadi inspirasi kami. 16 tahun aku bersamanya, pria paruh bayah yang ku
panggil ayah. Pergi meninggalkan seorang istri dan empat anaknya ke alam
Barzahk. Mengingat kembali kenangan pedih yang membahagiakan.
Semasa hidupnya, beliau adalah sosok
pekerja keras, jujur dan bertanggung jawab. Kaku, tak pandai dalam
memperlihatkan kasih sayang dan merangkai kata indah, itu kelebihan bagi
dirinya. Setiap berangkat dan sepulang sekolah kudapati Ayah mengayuhkan kaki di
mesin jahit tua.
Kiniku sadar tak seharusnya ada
penyesalan lahir dan besar di keluarga ini. Ketika menghadap Allah dalam sujud
sajadah tak henti lisan mengucapkan syukur. Pikir ku, menganggap kekayaan harta
dan kedudukan menjadi simbol kebahagiaan. Allah berkenan membuka sedikit
hidayah Nya untukku, kemudian menancapkannya dan bertengger direlung hatiku
yang berjiwa hanif (Orang orang yang beserah diri kepada perintah Allah dan
tidak berpaling).
Tak jarang keributan antara aku dan
mamah terjadi. Ya, dua perempuan di rumah bertengakar yang pastinya membuat
ayah pusing. Harus diakui ketika itu aku salah, terlalu sombong akan keadaan.
Aku merupakan anak yang gemar bercerita dibanding saudaraku yang lain, terutama
dengan lawan bicara ayah. Entah apa yang mendorongku begitu gemar bercerita
kepadanya padahal, ditanggapi saja tidak tapi aku yakin di raut wajah acuh itu
terdapat arti untuk memahami dan sangat memahami ucapan putrinya.
Malam
terakhir aku berbicara dengan pembahasan yang serius bersama Ayah. Buku fisika menjadi
saksi bisu perbincangan kami. Menggaruk garuk kepala hingga marah sendiri
ketika mengerjakan tugas. Dengan tenang ayah menghampiri bersama tawa wajahnya
yang tak bisa terlupakan.
Dalam
teori ilmu fisika, S= Perpindahan, W=
Usaha dan F= Gaya. Selesai mengerjakan tugas akupun berlari untuk makan. Berbaju
koko biru dan sarung merah kesangannya, diam diam ayah melihat tugas fisika,
entah apa yang ia pikirkan seserius itu. Selesai makan aku kembali belajar.
“ Ayah tahu,
kemarin teman sekolahku berulang tahun dan ayahnya memberikan ponsel keluaran
terbaru. Hmm, kapan aku bisa ngerasain dapet kado dari ayah, hari ulang tahunku
aja ayah gak tau.” Sindirku
Dengan senyum
indahnya beliau menatapku
“ Kamu sudah sholat?
Jangan ditinggalin sholatnya.” Tanya ayah
“ Ayahhhh, aku
kan sedang cerita temenku. Sebentar lagi aku sholat.” jawabku
“ Jika ingin sesuatu
harus ada usaha, maka itu kamu harus berubah dari sikapmu yang sekarang, jangan
perbanyak gaya tapi perbesar usaha.”Terang ayah
“
Apa maksud ayah? aku tidak mengeti.” Tanyaku
“ Dikehidupan
ini, bila kamu ingin hidupmu berubah jangan perbanyak gaya atau tingkah yang nantinya akan menyusahkanmu
dikemudiah hari. Tapi coba perbanyak usaha dengan kerja keras. Bukan ayah pelit
tidak memberimu hadiah ulang tahun. Ayah ingin mengajarkanmu untuk tau indahnya
mendekati Allah bersama jutaan doa dan harapan bukan sekedar minta ke orang tua
tanpa ada usaha. Kamu tahu? Tidak selamanya perjalanan hidup indah, ayah hanya
ingin kamu belajar sabar dan ihklas atas keadaanmu saat ini. Setiap apa yang
kamu minta selalu ayah kasih, bagaimana kamu bisa tahu bahwa kecewa itu
menguatkan.” Papar ayah.
Seketika
air mata mengalir membasahi wajah. Bibir ini pun tak mampu berkata. Tidak
biasanya ayah berucap dengan rangkaian kalimat indah. Akupun tidak menyadari
bahwa itu ucapan indah terakhir yang mana suara hati ayah tersampaikan padaku.
Pikirku, ayah menginterpretasikan rumus fisika yang aku kerjakan tadi ke dalam
kehidupan. Beliau mencoba menjelaskan apa yang harus dijelaskan.
Sepeninggal
ayah, hati ini pelan tapi pasti ingin hijrah menjadi yang lebih baik. Menjalankan
amanah yang ayah berikan. Terserah apa yang dipikir dan dikatakan orang, bila
menurutku ini benar dan tidak merugikan siapapun prinsip meninggalkan sesuatu
yang tidak bermanfaat, terutama tidak bermanfaat bagi kehidupan, maka pemberian
ayah Insya Allah terjaga. Biarlah nafas ini memeluk tentangmu ayah.
Bagiku
ayah merupakan seorang raja, tanggung jawab dan amanah yang diembannya layaknya
seperti raja bukan?. Diperlukan jiwa kepemimpinan tinggi, bijak sana, dan semangat
pekerja keras dalam mensejahterakan kehidupan rakyatnya. Aku bersyukur
sekaligus sedih diberi kesempatan untuk mengenal ayah lebih lama ketimbang adik-adikku.
Mama menjadi wanita
yang sangat tangguh, mengubur rasa sedihnya agar terlihat tabah dan kuat. Semua
itu ia lakukan untuk kami, anak anaknya untuk tidak terlalu larut dalam
kesedihan kehilangan ayah karena penyakit jantung yang dideritanya. Kasih
sayang lembut yang ayah berikan, takkan
pernah habis dimakan waktu. Selalu membekas di ruang kalbu. Hati takkan pernah
menipu, ayah menjadi penyebab aku menginjakkan kaki di muka bumi.
Kini duduk sedeku,
tangan meminta, mulut bergoyang, jatuh air mata menjadi caraku menunjukan
bentuk kasih sayang kepada ayah. Aku hanya bisa memberikan senyum, canda tulus
untuk berusaha menjadi anak yang lebih baik. Ayahku merupakan sinar yang mampu
menerangi, saat diriku gelap. Ayah, pinjami aku hatimu, agar aku belajar
bagaimana engkau menghadapi masalah tanpa mengeluh sedikit pun. Biarlah nafasku
memeluk tentang mu layaknya udara murni meski doa kami tak terlihat. Terimakasih
Ayah atas kebahagiaanku yang berasal dari keringatmu mencari rezeki siang dan
malam.

Komentar
Posting Komentar